PENDAHULUAN
Dalam dunia Islam berlaku satu peradaban yang berbeda dengan peradaban-peradaban yang terdahulu di wilayah Persia dan Romawi. Suatu peradaban yang berbeda dengan peradaban Arab yang mendominasi Jazirah Arab pada masa ekspansi. Itulah peradaban Islam yang jiwa dan sendi-sendinya disarikan dari Islam serta diserap dari keunggulan-keunggulan peradaban dunia yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Dunia lebih mendapatkan manfaat dari peradaban Islam dibandingkan peradaban dua negara adikuasa sebelumnya, Yunani dan Romawi. Peradaban Yunani lebih banyak memusatkan perhatian kepada pemikiran dan filsafat serta tidak banyak memperhatikan kebutuhan masyarakat dan kehidupan individu. Lain halnya dengan peradaban Islam selain memotivasi kepada pemikiran dan filsafat, juga sangat memperhatikan aspek-aspek kehidupan individu dan masyarakat serta bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dunia dan akhirat.
Oleh sebab itu ekspansi Islam berbeda dengan ekspansi yang dilakukan Romawi dan Mongol yang sama sekali tidak memperhatikan nilai peradaban yang tinggi, bahkan sebaliknya, bangsa Mongol telah merusak dan membinasakan peradaban yang telah ada. Sedangkan ekspansi Islam membawa risalah peradaban yang mengajak pada perdamaian, kesejahteraan dan ketenangan dalam kehidupan.
Berbagai peristiwa dalam sejarah telah menunjukkan peranan dan kontribusi peradaban Islam untuk kemajuan peradaban dunia, khususnya dunia Eropa yang sebelumnya berada dalam kegelapan di bawah kungkungan gereja.
Hal ini dapat dilihat dari masuknya Islam ke Spanyol yang merupakan bagian dari Benua Eropa. Kehadiran Islam di Spanyol telah membawa Eropa mencapai renaisans.
PEMBAHASAN
Sebelum Islam masuk ke Spanyol / Andalusia1, daerah Spanyol telah dikuasai oleh bangsa Ghotia, mereka berhasil menduduki Spanyol pada tahun 507 M, dan mengusir bangsa Vandal ke Afrika Utara. Pada pemerintahan kerajaan Visigoth, rakyat dipaksa untuk mengikuti aliran agama monofosit yang dianut para penguasa. Disamping itu kehidupan sosial dan ekonomi rakyat pun berada dalam kondisi yang terpuruk karena kebijakan penguasa yang sewenang-wenang.
Sementara itu di daerah tersebut juga terjadi konflik politik antara Roderik dan kerabat Witiza – Oppas dan Achila2 – di satu pihak, dan antara Roderik dan Julian3 di pihak lain.
Lawan-lawan politik raja Roderik meminta bantuan kaum muslimin di Afrika Utara, bahkan turut memberikan dukungan dan bantuan kepada pasukan Islam yang akan menaklukkan Spanyol.
Gubernur Afrika Utara saat itu – Musa bin Nushair – meminta izin kepada Khafilah Walid bin Abdul Malik untuk melakukan penyerbuan ke Spanyol, dan usul tersebut disetujui oleh khalifah.4
Maka pada tahun 91 H / 710 M, dikirimlah tim ekspedisi beranggotakan 500 personil pasukan yang dipimpin oleh Tharif bin Malik. Tim ekspedisi tersebut tidak menemukan perlawanan yang berarti sehingga Tharif bin Malik dan pasukannya kembali dengan kemenangan dan rampasan perang.5
Sukses ini mendorong Musa bin Nushair untuk mengirim pasukan dengan jumlah yang lebih besar. Maka pada tahun 92 H / 711 M dikirimlah 7000 personil pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan ini menyeberangi selat yang memisahkan antara Afrika Utara dan Spanyol dengan kapal-kapal yang dipinjamkan oleh Julian dan berhenti di sebuah tempat bernama Jazirah al-Khadra, yang kemudian dikenal dengan nama Jabal Thariq (Gibratal). Disanalah Thariq bin Ziyad mempersiapkan rencana dan siasat untuk menaklukkan Spanyol.6
Kedatangan pasukan Islam disambut oleh Roderik, raja Visigoth dengan 100.000 tentara. Thariq meminta tambahan bantuan 5000 pasukan kepada Musa bin Nushair. Kekuatan tampak tidak seimbang, namun dengan semangat jihad yang tinggi dari pasukan Islam, pasukan Roderik dapat dikalahkan, bahkan Roderik pun tewas dalam pertempuran. Hal ini sehingga melemahkan semangat orang-orang Spanyol dan memudahkan Thariq untuk menaklukkan mereka. Thariq terus maju dan dapat menaklukkan kota Cordoba, Granada dan Toledo yang merupakan ibukota Visigoth.7
Terkesan oleh kemenangan yang dicapai Thariq, Musa bin Nushair pun ikut ambil bagian untuk menaklukkan Spanyol. Dengan memimpin pasukan dengan jumlah besar, Musa bin Nushair menyeberangi selat menuju Carmona yang memiliki benteng kuat. Kota tersebut dapat ditaklukkan, selanjutnya Musa dapat menaklukkan Sevilla dan akhirnya bertemu dengan Thariq di Toledo. Pasukan mereka menuju ke utara dan dapat menaklukkan kota Zaragosa, Barcelona, Aragon dan Castilia, kemudian menuju ke Timur laut sampai ke pegunungan Pyrenia. Penaklukan mereka terhenti karena Khalifah Walid bin Abdul Malik memanggil mereka kembali ke Damaskus.8
Secara umum kesuksesan pasukan Islam memiliki semangat juang yang tinggi dan dipimpin oleh panglima yang handal dalam strategi dan siasat perang. Disamping sikap toleran yang diperlihatkan pasukan Islam mendatangkan simpati dari bangsa Spanyol yang ketika itu mayoritas beragama Yahudi. Berbeda dengan pasukan Spanyol yang kebanyakan adalah tawanan dan budak yang dipaksa untuk berperang, sehingga mereka berperang tanpa semangat.
Dukungan dan kerjasama dari rakyat Spanyol turut mempermudah usaha pasukan Islam untuk menguasai Spanyol. Rakyat yang ingin melepaskan diri dari keterpurukan ekonomi dan belenggu penderitaan telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi umat Islam. Di lain pihak pertikaian politik dalam tubuh pemerintahan kerajaan Visigoth memperburuk situasi di Spanyol yang tentunya sangat menguntungkan umat Islam karena lawan politik Roderik meminta bantuan kepada penguasa Islam untuk melumpuhkan kekuatan Roderik. Dan hal ini sekaligus merupakan dukungan mereka kepada pasukan Islam, bahkan mereka bersedia menyediakan kapal untuk menyeberang ke Spanyol.
Maka ekspansi Islam ke Spanyol pada saat itu adalah awal berkembangnya ajaran Islam di sana hingga + 8 abad lamanya dari tahun 710 – 1609.
Secara garis besar perkembangan Islam di Spanyol dapat dibagi kepada beberapa tahap perkembangan sebagai berikut :
Pada periode ini Spanyol merupakan salah satu propinsi di bawah kekuasaan Daulah Umayyah di Damaskus, yang dipimpin oleh para wali wakil Khalifah disana, mulai dari tahun 93 H / 716 M sampai tahun 138 H/ 756 M.9
Pada masa ini, stabilitas politik di Spanyol belum tercipta dengan sempurna, dimana diantara para elite penguasa masih terdapat perselisihan, terutama diakibatkan oleh perbedaan etnis dan golongan, seperti antara etnis Barbar dan Arab yang masing-masing mereka berhak untuk memerintah di negeri tersebut. Bahkan terjadi pula perbedaan pandangan politik antara Khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara, dimana diantara mereka merasa paling berhak berkuasa di Spanyol. Hal ini sering menyulut terjadinya perang saudara, sehingga dalam jangka 40 tahun terjadi 20 kali pergantian wali dengan wali yang pertama adalah Abdul Aziz bin Musa bin Nushair, sampai Gubernur terakhirnya Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri.10
Disamping itu gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
Namun demikian pada masa itu, perluasan daerah tetap dapat dilakukan. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, usaha penaklukan Spanyol diteruskan untuk menerobos pegunungan Pyneria dan terus ke timur di bawah pimpinan As-Samah bin Malik pada tahun 719 M, namun ia terbunuh dan digantikan oleh Abdurrahman al-Ghafiqy. Dengan pasukannya ia menyerang kota Bordesu, Poiter dan terus ke kota Tours, namun pasukannya ditahan oleh Charles Martel diantara kota Poiter dan Tours, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan pasuka Islam kembali ke Spanyol.
Setelah itu perluasan wilayah pada masa tersebut masih terjadi, seperti ke Avirignon (734 M), Lyon (743 M) dan ke pulau-pulau di laut tengah, seperti Majorka, Corsia, Sardina, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari pulau Sicilia.11
Pada masa ini daerah Islam telah menjangkau seluruh Spanyol, Perancis tengah dan bagian penting dari Italia.
Maka bisa dikatakan umat Islam Spanyol pada masa itu masih dihadapkan kepada perbaikan stabilitas dalam negeri dan perluasan daerah sehingga keadaan tersebut mengakibatkan belum adanya kegiatan dalam pembangunan peradaban dan kebudayaan di daerah Spanyol.
Periode ini berakhir dengan kedatangan Abdurrahman Ad-Dakhil seiring dengan berakhirnya kekuasaan Daulah Umayyah di Timur dan digantikan oleh Daulah Abbasiyah.
Periode ini dimulai dengan masuknya Abdurrahman ad-Dakhil12 ke Spanyol dan berhasil merebut kekuasaan dari Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. Pada periode ini Spanyol dipimpin oleh para Amir yang pemerintahannya terpisah dari Daulah Abbasiyah di Baghdad, yang berlangsung selama rentang waktu 138 H / 756 M sampai 315 H / 912 M.13
Kemajuan-kemajuan di bidang politik maupun peradaban telah mulai terlihat pada masa ini. Hal ini terlihat dari pembangunan fisik yang dilakukan, seperti pembangunan Mesjid Cordova dan gedung-gedung sekolah di kota besar Spanyol oleh Abdurrahman ad-Dahkhil. Pada masa Hakam diadakanlah pembaharuan di bidang militer, seperti dengan membentuk satuan tentara bayaran. Disamping itu perhatian para Amir terhadap ilmu pengetahuan telah turut menjadi faktor pendukung berkembangnya berbagai disiplin ilmu. Abdurrahman al-Ausath bahkan mengundang para ahli ilmu dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini ditandai dengan masuk dan berkembangnya pemikiran filsafat di dunia Islam Spanyol.14
Pada masa ini umat Islam masih dihadapkan kepada hal yang mengancam stabilitas keamanan, baik yang datang dari luar Islam seperti gerakan Nasrani fanatik yang mencari kesyahidan (Matyrdom) maupun dari kalangan umat Islam sendiri seperti pemberontakan dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan Malaga ataupun pemberontakan yang terjadi di Toledo, disamping perselisihan yang kerap terjadi antara orang-orang Arab dan orang Barbar.15
Periode ini berlangsung semenjak Abdurrahman III yang bergelar an-Nashir memerintah pada tahun 315 H/912 M sampai munculnya periode Muluk ath-Tahwaif pada tahun 1013 M. Pada masa ini penguasa di Spanyol bergelar khalifah. Gelar tersebut bermula ketika Abdurrahman III mengetahui bahwa Khalifah Abasiyyah, al-Muktadir, wafat dibunuh oleh pengawalnya, tahun 929 M. Maka Abdurrahman III menilai ini adalah saat yang tepat untuk memproklamirkan dirinya sebagai khalifah di Spanyol. Kemudian gelar ini tetap dipakai sampai akhir pemerintahan Bani Umayyah.16
Abdurrahman III dengan gelar an-Nashir yang memerintah + 50 tahun telah berhasil menciptakan stabilitas politik di Spanyol, hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya memadamkan pemberontakan-pemberontakan, dan meredam timbulnya perpecahan dan perselisihan diantara bangsa Arab.17
Pada periode ini Umat Islam di Spanyol mencapai puncak kejayaannya, hingga dapat menyaingi kejayaan Bani Abasiyyah di Baghdad. Hal ini terlihat dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di daerah tersebut dengan didukung oleh sarana penunjang yang dibangun oleh pemerintahan Daulah Umayyah disana, seperti pembangunan Universitas Cordova dengan koleksi buku-buku mencapai ratusan ribu.18 Bahkan pada masa al-Hakam II, Andalus dikenal sebagai pusat kebudayaan, kesusasteraan dan Ilmu Pengetahuan.19
Kondisi ini terus berlangsung sampai kepada masa khalifah al-Muzaffar, akan tetapi setelah beliau wafat pada tahun 1008 M, para penerus Bani Umayyah tidak dapat mempertahankan kejayaan negeri tersebut. Para khalifah yang terpilih memiliki kecakapan dalam pemerintahan, hingga memicu timbulnya berbagai kekacauan yang akhirnya membawa kepada kehancuran, sekaligus menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Daulah Umayyah di Spanyol. Pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapus jabatan khalifah, dan ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam beberapa kerajaan kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.20
Periode ini dimulai saat Spanyol terpecah kepada lebih dari tiga puluh negara kecil, yang dipimpin oleh penguasa-penguasa yang berasal dari berbagai suku bangsa dan yang dikenal dengan istilah muluk at-thawaif, yang berlangsung dari tahun 1013 – 1086 M.21
Perpecahan tersebut sekaligus mencerminkan heterogenitas anggota militer pada masa Bani Umayyah yang kemudian melepaskan diri dari pemerintahan pusat, selain itu hal ini juga dapat dipahami sebagai ketidak harmonisan umat Islam di Spanyol, karena terlalu mengedepankan perbedaan etnik dan golongan masing-masing, disamping ambisi yang terlalu kuat dari masing-masing golongan untuk berkuasa di Spanyol, ditambah lagi dengan dihapuskannya jabatan Khalifah oleh Dewan menteri, yang semakin membuka peluang untuk perebutan kekuasaan, hingga berujung kepada terpecahnya Spanyol menjadi negara-negara kecil.
Pemerintah pada periode ini diwarnai dengan berbagai peperangan antara golongan, kerajaan yang kuat menyerang yang lemah sehingga untuk mempertahankan kekuasaannya, ada sebagian golongan yang meminta bantuan kepada non muslin. Perpecahan politik di kalangan umat Islam ini, menimbulkan hasrat prang-orang Nasrani untuk merebut kembali daerah Spanyol, hal ini diwujudkan dengan berbagai serangan oleh pihak Nasrani terhadap Islam. Pihak Nasrani yang diwakili oleh Alfonso V berhasil merebut kota Toledo pada tahun 1085,22 dan serangan-serangan lain mulai dilancarkan kepada daerah-daerah kekuasaan Islam lainnya. Al-Mu’tamad bin Ubaad salah seorang dari raja Bani Ubaad meminta bantuan kepada Dinasti Murabithun di Afrika Utara, yang pada saat itu dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin. Yusuf datang bersama pasukannya pada tahun 1086 dan bergabung dengan pasukan al-Mu’tamad di daerah Zallaka yang kemudian berhasil mengalahkan pasukan Alfonso VI, walaupun kota Toledo tidak dapat direbutnya kembali.23 Dan sejak saat itu kekuasaan Islam di Spanyol diambil alih oleh Dinasti Murabithun.
Walaupun pada masa ini merupakan masa perpecahan tapi peradaban dan seni dianggap memasuki masa kejayaannya, kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh Spanyol tersebut tetap memberikan dorongan kepada para ilmuwan dan sastrawan untuk mengembangkan ilmunya, bahkan mereka mendapatkan perlindungan dari kalangan penguasa.24 Bahkan para pemimpin setiap golongan berlomba-lomba untuk menyaingi kemajuan Cordoba sebagai pusat ilmu, sehingga pada masa tersebut bermunculan pusat-pusat peradaban baru yang lebih maju dari Cordoba.
Perpecahan politik yang terjadi di kalangan umat islam, membuat orang-orang Kristen berkeinginan untuk merebut kembali dan menjarah beberapa wilayah Muslim Spanyol. Yang memang orang-orang Kristen dari sejak kedatangan umat Islam sudah bermaksud untuk mengusirnya, namun maksud tersebut belum terlaksana. Sentimen orang-orang Kristen juga diungkapkan dalam bentuk pendirian sejumlah biara Benedictine dan kwgiatan perziarahan ke Santiago de Compo Stela. Paus Gregory VII menyerukan untuk melakukan gerakan reconquesta (penaklukan kembali wilayah Spanyol dari umat Islam). Paus menjadikan reconquesta sebagai kewajiban agama bagi umat Kristen dan sebagai sebuah ambisi teritorial raja-raja Spanyol.
Dengan semangat untuk mempersatukan kerajaan Castile, Leon dan kerajaan Galicia, pada tahun 1085, Alfonso VI menaklukan Toledo. Hal ini merupakan awal dari pecahnya peperangan antara pihak Muslim dengan Kristen. Kaum migran Kristen membanjiri Toledo, tetapi warga Muslim tetap bertahan tinggal disana. Dalam waktu yang berurutan kerajaan Aragon merebut Huesca (1096), Saragosa (1118 M), Tortosa (1148 M) dan Lerida (1149 M). Pada paro kedua abad kedua belas gerakan reconquesta telah melembaga. Persaudaraan militer-keagamaan, seperti beberapa gerakan persaudaraan di Calatrava dan Santiago menaklukan dan menjarah sejumlah wilayah Muslim.
Periode ini dimulai semenjak Yusuf bin Tasyfin berhasil mengalahkan pasukan Alfonso pada tahun 1086 M. Tertarik dengan kemakmuran Spanyol, membuat ia berambisi untuk menaklukkan Spanyol. Hanya dalam jangka waktu tiga tahun ia berhasil merebut Spanyol dan mengahkhiri kekuasaan Muluk at-Thawaif kecuali wilayah Zaragosa dan La Sahla karena para penguasanya meminta bantuan ke Eropa. Yusuf mengukuhkan kekuasaannya di Spanyol atas restu khalifah al-Muqtadi, dengan gelar Amirul Muslimin dan Nashiruddin, yang kemudian juga digunakan oleh para penerusnya.26 Untuk mengatur Spanyol Yusuf bin Tasyufin menunjuk putranya Tamin bin Yusuf menjadi Amir di Spanyol.27
Pada periode ini perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak begitu menonjol, hal ini disebabkan pengaruh fuqaha’ yang fundamentalis, segala kegiatan keilmuan harus sesuai dengan kehendak fuqaha’, disamping itu penguasa Dinasti Murabithun lebih memfokuskan kegiatannya kepada gerakan pemurnian ajaran Islam.28 Sehingga perkembangan peradaban sedikit terabaikan.
Kekuasaan Dinasti Murabithun di Spanyol hanya berlangsung sampai tahun 1149 M. Ketika Yusuf bin Tasyufin mangkat, ia digantikan oleh putranya Alif bin Yusuf yang selalu disibukkan oleh usaha untuk menumpas pemberontakan, maka lambat laun Murabithun pun mundur. Para penggantinya pun bukanlah orang-orang yang cakap, sehingga kekuasaan Dinasti ini dapat diambil oleh Dinasti Muwahhidun, disamping adanya serangan dari pihak Nasrani, yang pada masa ini telah berhasil merebut beberapa daerah kekuasaan Islam seperti Castile, Barcelona, dan beberapa daerah lainnya.
Kekuasaan Dinasti Muwahhidun di Spanyol dimulai pada tahun 1149 M setelah berhasil menumbangkan kekuasaan Dinasti Murabithun di Maghribi, kemudian berhasil merebut kekuasaan di Spanyol dengan tekad mengembalikan kejayaan Islam di sana. Untuk masa beberapa dekade Dinasti ini mengalami kemajuan.
Pada masa ini serangan dari pihak Nasrani semakin gencar, pada awalnya serangan yang dilancarkan oleh pihak Nasrani dapat dipatahkan, sampai akhirnya Dinasti Muwahhidun dihadapkan pada perang Las Nafas de Tolosa. Pada saat itu pasukan Nasrani dipimpin oleh Alfonso VIII, raja Castile, dengan mengatas namakan perang suci. Mereka berhasil menghimpun bantuan dari Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Pasukan Islam yang saat itu dibawah kepemimpinan al-Mansur Billah mengalami kekalahan besar, yang membawa kepada berakhirnya kekuasaan Dinasti Muwahhidun di Spanyol. Sejak saat itu satu per satu daerah kekuasaan Islam di Spanyol jatuh ke tangan pasukan Nasrani, selama tahun 1238 – 1260 M mereka dapat menguasai seluruh Spanyol30 kecuali daerah Granada.
Pada periode ini Islam hanya memiliki daerah kekuasaan di Granada, di bawah pemerintahan Bani Ahmar. Mereka berhasil mengendalikan daerah-daerah pegunungan di Propinsi Granada, yang kemudian di sana didirikan benteng al-Hamra. Pada masa ini peradaban kembali mengalami kemajuan seperti pada zaman Abdurrahman III, Granada pada waktu itu menjadi pusat peradaban yang banyak menarik perhatian para cendikiawan dan sastrawan khususnya yang berada di kawasan barat Islam.31
Keadaan ini dapat dipertahankan selama 2 ½ abad, yang mungkin sangat erat kaitannya dengan penguasa Granada hanya terdiri dari satu etnis yaitu Arab, yang berasal dari daerah Spanyol lainnya, yang kemudian berlindung di bawah kekuasaan Bani Ahmar.
Akan tetapi pada akhir pemerintahan, perebutan kekuasaan di dalam tubuh pemerintahan Bani Ahmar tidak dapat dielakkan, hingga mengakibatkan lemahnya posisi kekuatan Muslim di Granada. Abu Abdullah yang ingin berkuasa meminta bantuan dari orang-orang Nasrani yang waktu itu dipimpin oleh Ferdinand II dan Isabella untuk menumbangkan pemerintahan yang sah. Kesempatan ini dipergunakan oleh umat Nasrani untuk merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol tersebut, mereka berhasil mengalahkan pemerintahan yang sah, bahkan Granada berhasil mereka taklukkan. Muhammad IX Sultan Bani Ahmar terakhir, meninggalkan Spanyol. Demikian juga dengan Abu Abdullah yang kemudian hijrah ke Afrika Utara. Hal ini menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol.
Jatuhnya kota Granada ke tangan umat Nasrani menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Para penguasa Bani Ahmar mengambil inisiatif untuk hijrah ke daerah Islam lainnya. Sedangkan masyarakat Islam di Spanyol dihadapkan kepada dua pilihan, antara menjadi pengikut agama Nasrani atau meninggalkan daerah Spanyol, sehingga pada tahun 1609 M tidak ada lagi umat Islam yang tinggal di daerah tersebut.32
PENUTUP
Kesimpulan
Pasang surut Islam di Spanyol terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.mulai tahun …….. s/d tahun 1492 M. Islam di Spanyol telah berhasil menyedot perhatianNegara Eropa dan Negara lainnya ketika itu dengan kemajuan yang telah mereka capai dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.
Masuknya Islam ke Spanyol tidak hanya merubah kehidupan masyarakat disana, tapi lebih dari itu Kemajuan peradaban yang tercipta disana telah membangunkan bangsa Eropa dari tidur nyenyak yang diselimuti kebodohan bangun menjadi bangsa yang modern dengan kemajuan yang begitu pesat dalam bidang sains dan teknologi mengungguli kejayaan Islam sampai saat ini. Tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan Islam telah membidani lahirnya kebangkitan kebudayaan baru di Benua Eropa sampai sampai saat ini.
Saran
Memperhatikan sejarah Islam di Andalusia ini, menjadikan kita terbangun dari suatu masa kebodohan kemasa kesadaran yang hakiki. Hancur dan berakhirnya kekuasaan Islam di Sepanyol umumnya dan Andalusia khususnya adalah karena beberapa faktor berikut :
1. Meninggalkan Ajaran Islam yang sarat dengan pedoman bernegara mulai dari hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya. Penguasa Islam ketika itu mengikuti rayuan Syethan dengan menuruti ajakan Nafsu amarah, ingin berkuasa, hasat dan dengki kepada saudara sendiri, sehingga timbul keinginan untuk berperang merebut kekuasaan.Perpecahan itu akhirnya menimbukan kelemahan Umat Islam ketika itu.
Nabi bersabda : الجماعة رحـمــة و الـفــرقة عـذاب
Bersatu itu menghasilkan rahmah ( persatuan yang kuat ), sedangkan perpecahan itu mendatangkan azab ( hilangnya persatuan yang berujung lemahnya kekuasaan sehingga menimbulkan kebinasaan).
2. Hilangnya semangat awal sewaktu akan merebut semenanjung Sepanyol atau semenanjung Andalusia itu dari semangat ingin menyebarkan Islam kepada keinginan berkuasa untuk kepentingan diri sendiri terpengaruh akan kesenangan dunia, dan melupakan tujuan akhir yaitu kesenangan di akhirat.
3. Kurangnya pembinaan Iman dan Taqwa dikalangan keluarga Istana, sehingga kesenangan yang mereka nikmati itu tidak mereka sadari lagi bahwa semuanya itu datang dari Allah.
4. Kepada Generasi Islam sekarang juga yang akan datang disarankan bahwa tujuan akhir kita di dunia ini adalah untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Demikian saya ungkapkan karena dewasa ini semangat Islam / Girah Islam itu juga telah mulai pudar dalam diri mereka, dimana kebanyakan mereka mengkhayalkan kesenangan sejenak ketimbamng kesenagan yang abadi. Misalnya mereka mau kuliah karena ingin nanti diangkat menjadi Pegawai Negeri. Padahal kalau mereka ,menyadari tujuan yang sebenarnya baik untuk diri mereka sendiri dan buat Umat Islam umumnya, persoalan menjadi Pengawai Negeri itu suatu prestasi yang jauh lebih kecil sekali dibanding tujuan yang mulia itu.
5. Dengan meninggalkan petunjuk Islam, akan berakibat fatal, berbahaya dan merugikan diri sendiri dan Umat Islam sebagaimana telah dialami oleh umat Islam di Andalusia yang kisahnya telah ditulis dalam makalah yang kecil ini.
6. Akhirnya atas segala kekurangan dalam penulisan makalah ini, saya mohon kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan pada penulisan berikutnya.
Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Sejarah Umat Islam, Bukittinggi : Nusantara
Harun, Maidir /Firdaus, Sejarah Peradaban Islam I, Padang : IAIN Press, 2001
Hasan Ibrahim Hasan, ad-Daulat Fathimiyah, Mesir : al-Qahirah, 1959
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam as-Siyasi wa Ats-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, - Kairo : Maktabah an-Nadhhah al-Misriyah, 1979
Hitti, Philip K., History of The Arabs, London : The Macmilan Press, 1974
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jakarta : UI-Press, 1974
Sou’ib, Yoesoef, Kekuasaan Islam di Andalusia, Medan : Madju, 1984
Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam 2, Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003
Tim Ensiklopedi, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, J.2, Jakarta : PT. Icktiar Baru Van Hoeve, 2002
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997
1 Pada awalnya Spanyol berada di bawah kekuasaan bangsa Romawi, sampai kedatangan bangsa Vandal pada abad V yang berhasil menaklukkan daerah tersebut, sejak saat itu Spanyol dikenal juga dengan nama Vandalusia yang berarti negeri bangsa Vandal. Orang Islam kemudian menyebutnya Andalusia. (Hasan Ibrahim Hasan), Tarikh al-Islam as-Siyasi wa Ats-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, - Kairo : Maktabah an-Nadhhah al-Misriyah, 1979), h. 314
2 Oppas dan Achila adalah kakak dan anak dar Witiza yang dulunya adalah penguasa di daerah Toledo, yang kemudian disingkirkan oleh Roderik, karena pusat pemerintahan Visigoth dipindahkan dari Seville ke Toledo. – Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 92
3 Julian adalah mantan penguasa daerah Septah, yang memiliki dendam pribadi dengan Roderik, karena perlakuan buruknya kepada putri Julian. – Yoesoef Sou’ib, Kekuasaan Islam di Andalusia, Medan : Madju, 1984), h.8
4 Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 2, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003), h.128
5 Ibid, h.128
6 Hasan Ibrahim Hasan, op.cit., h. 319
7 Ahmad Syalabi, op.cit., h. 130
8 Ibid., h. 130-131
9 Hamka, Sejarah Umat Islam, (Bukittinggi : Nusantara, t.th), cet. 3, h. 284
10 Badri Yatim, op.cit., h. 94
11 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, (Jakarta : UI-Press, 1974), h. 62
12 Abdurrahman ad-Dakhil adalah salah seorang keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran golongan Hasyimiyah, ia bersembunyi dan menyamar sebagai pedagang di Mesir, Palestina, kemudian terus ke Afrika Utara, akhirnya pada tahun 755, ia menyeberang ke Spanyol. Di Spanyol ia menjalin kerjasama dengan pimpinan suku Kalb – Al Bajl bin Bisr – untuk merebut kekuasaan dari Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. Pada tahun 756 M kekuasaan dapat direbutnya dan Cordoba dijadikan sebagai pusat pemerintahannya. (Maidir Harun/Firdaus, Sejarah Peradaban Islam I, (Padang : IAIN Press, 2001) h. 109-110)
13 Hamka., loc.cit.
14 Badri Yatim, op.cit., h. 95
15 Ibid
16 Ibid., h. 96
17 Hamka, op.cit., h. 288
18 Badri Yatim, op.cit., h. 97
19 Hamka, loc.cit.
20 Badri Yatim, loc.cit.
21 Ibid, h. 97
22 Maidir Harun/Firdaus, op.cit., h. 114
23 Hamka, op.cit., h. 291
24 Tim Ensiklopedi, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, J.2, (Jakarta : PT. Icktiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 201
25 Dinasti Murabithun berasal dari salah satu kabilah Barbar Lamtuna, yang pada awlnya Murabithun adalah suatu gerakan pemurnian Islam dalam bentuk tarekat yang dikembangkan melalui ribat (pesantren), yang akhirnya berkembang menjadi suatu kekuatan politik dengan mendirikan Dinasti Murabithun. (Maidir Harun/Firdaus, op.cit., h. 115-119)
26 Tim Ensiklopedi, op.cit., h. 203
27 Yoesoef Sou’ib, op.cit., h. 124
28 Maidir Harun/Firdaus, op.cit., h. 122
29 Dinasti Muwahhidun berasal dari kabilah Masmudah, yang pada awalnya adalah suatu gerakan pemurnian agama kemudian berkembang menjadi suatu kekuatan politik dengan mendirikan suatu Dinasti Muwahhidun yang berpusat di Maroko, dengan pendirinya Muhammad bin Tumart – Tim Ensiklopedi, op.cit., h. 206
30 Philip K. Hitti, History of The Arabs, (London : The Macmilan Press, 1974), h. 531-534
31 Tim Ensiklopedi, op.cit., h. 212
32 Harun Nasution, op.cit., h. 82
Copyright 2009 - Analist Blogs
Blogspot Theme designed by: Ray Creations, Ray Hosting.